Natasha
SEIRING
BUBARNYA Uni Soviet pada 1991, demokrasi melanda negeri-negeri yang
dulu tergabung dalam negara adidaya komunis yang opresif itu. Saat itu
merupakan masa peralihan dan perubahan besar, namun kebanyakan penduduk
negeri-negeri tersebut tampak siap menghadapinya. Mereka kembali merdeka
dan dapat hidup sebagai bangsa-bangsa tersendiri. Mereka bisa berbicara
bahasa mereka sendiri, menjalankan agama mereka sendiri, dan yang
terpenting, memerintah diri sendiri. Lalu realitas pun hadir. Bagi
sebagian besar penduduk, impian kehidupan yang lebih baik sirna dalam
sekejap. Gerakan menuju reformasi pasar yang dimaksudkan membawa
negara-negara tersebut ke dalam kancah ekonomi global justru menyebabkan
pelarian modal besar-besaran. Hukum dan keteraturan dirongrong oleh
korupsi, kerakusan, dan penyuapan.
Dengan
segera, ekonomi negara-negara baru itu pun runtuh dan jaring pengaman
sosial yang telah menyediakan standar kehidupan minimal pun
tercabik-cabik. Keamanan dan kesetaraan tinggal kenangan. Demokrasi
menjadi kepalsuan yang pahit. Dalam kekacauan yang terjadi sesudahnya,
puluhan juta orang terlunta-lunta. Mereka dipaksa bertahan hidup semampu
mereka. Siapa yang bisa mereka mintai bantuan? Jelas bukan pemerintah
mereka. Kelas penguasa telah menjadi kelas berpunya. Selagi rakyat kecil
kebingungan mencari makan, para politikus dan birokrat tingkat atas
mengisi penuh kantongnya sendiri. Bagi mereka, mobil Mercedes dan
telepon seluler menjadi bagian gaya hidup, dan yang ada di pikiran
mereka hanyalah "seberapa banyak?" dan "pilih yang mana?" Ketika para
pucuk pimpinan negara mengangkangi kekuasaan dan mengeruk kekayaan, rasa
tidak percaya terhadap otoritas yang tertanam akibat puluhan tahun di
bawah kuasa Soviet menimbulkan kekecewaan yang tersebar luas. Rakyat
harus mengurus diri sendiri. Tak butuh waktu lama hingga hilangnya
kendali dan perbatasan baru yang berlubang-lubang mendatangkan suatu
kekuatan digdaya baru. Seraya Tirai Besi yang dulu tak dapat ditembus
runtuh berkeping-keping, kejahatan terorganisasi menerobos masuk ... dan
mengganti Tirai Besi dengan retsleting plastik murahan. Pasar gelap
merajalela dan tetap bercokol hingga sekarang. Juga tidak perlu waktu
lama bagi para penjahat untuk menemukan aset paling berharga
republik-republik baru: kaum perempuan yang cantik namun putus
asa—berpendidikan, bertatakrama, tanpa masa depan. Akibat kacaunya
struktur sosial, keluarga-keluarga pun ikut berantakan. Anak-anak
ditelantarkan di jalanan.
Para
suami mencari pelarian dalam botol dan kecanduan alkohol pun marak.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat. Dan di tengah semua
itu, kaum perempuanlah yang terpaksa membereskan puing-puingnya. Mereka
mulai mencari pekerjaan untuk menjaga keutuhan keluarga mereka.
Gadis-gadis muda yang belum berkeluarga pun mencari pekerjaan untuk
memberi makan adik-adik dan orangtua mereka. Tapi, pada saat itu tingkat
pengangguran perempuan melonjak hingga kira-kira 80% persen. Tak ada
lowongan yang tersedia. Dengan hawa keputusasaan di mana-mana, kaum
perempuan pun menjadi sasaran empuk. Datanglah "para penyelamat", yang
menjanjikan berbagai macam hal yang oleh para perempuan itu dianggap
jalan keselamatan. Pekerjaan sebagai pengasuh anak di Yunani ...
pengurus rumah tangga di Italia dan Prancis ... pelayan di Austria dan
Spanyol ... model di Amerika Utara dan Jepang. Para perekrut selalu
menggambarkan impian indah pekerjaan bergaji tinggi di negeri-negeri
menawan. Bagi angkatan perempuan muda tersebut, yang tumbuh dengan
memelihara fantasi romantis tentang dunia Barat, kesempatan-kesempatan
itu tak hanya pekerjaan impian. Kesempatan-kesempatan itu adalah jalan
keluar. Tanpa banyak pertimbangan mereka langsung menyambarnya, dan
mendapati diri mereka terjebak dalam lingkaran setan.
Para
Natasha dikirim ke seluruh penjuru dunia. Mereka menjadi mode terbaru
dalam industri seks. Mereka hadir di jalan-jalan daerah lampu merah di
Austria, Italia, Belgia, dan Belanda. Mereka mengisi rumah-rumah bordil
di Korea Selatan, Bosnia, dan Jepang. Mereka bekerja tanpa busana di
panti pijat di Kanada dan Inggris. Mereka dikurung sebagai budak seks
dalam apartemen di Uni Emirat Arab, Jerman, Israel, dan Yunani. Mereka
membintangi pertunjukan intip dan tari telanjang di Amerika Serikat.
Bagi yang mengamati sekilas, mereka langsung berbaur dengan
perempuan-perempuan yang memilih untuk menukar uang dengan seks. Dalam
pakaian seronok, dan sepatu hak tinggi, mereka berjalan dan berbuat
hal-hal yang sama. Mereka tersenyum, mengedip, berpose, dan melenggang,
tapi mereka melakukannya karena tahu apa yang akan terjadi kalau mereka
tak melakukannya. Tiap hari, para Natasha dipaksa melayani sepuluh
sampai tiga puluh laki-laki dalam semalam. Uang yang mereka dapat
langsung diambil oleh "pemilik" mereka. Mereka hidup dalam kondisi
menyedihkan, sering menderita penyiksaan dan ancaman.
Mereka
yang melawan dihukum berat. Mereka yang menolak adakalanya dicederai
atau dibunuh. Sebagian besar orang tak tahu-menahu mengenai keberadaan
perempuan-perempuan tersebut. Selain yang bekerja di jalan, biasanya
mereka tak terlihat, tersembunyi di balik pintu terkunci di apartemen,
bordil, panti pijat, dan bar. Bagi klien mereka, mereka hanyalah
seonggok tubuh tanpa arti. Tak peduli mereka itu diperbudak; seks demi
uang adalah transaksi bisnis. Bagi pemilik dan mucikari, gadis-gadis itu
adalah barang dapat rusak yang harus dimanfaatkan sesering mungkin
sebelum hancur. Dan bagi geng yang menyelundupkan perempuan, mereka
adalah satu bentuk bisnis paling menguntungkan yang ada sekarang.
Trafiking manusia sekarang merupakan bisnis penghasil uang terbesar
ketiga di dunia, sesudah perdagangan gelap senjata dan obat-obatan.
Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa perdagangan
manusia memberikan 12 miliar dolar per tahun bagi kejahatan
terorganisasi. Di suatu kedai kopi pinggir jalan di luar kota Roma,
seorang mucikari Albania membual, "Kubeli perempuan itu seharga $2.500.
Modalku balik dalam beberapa hari." Menurut organisasi polisi
internasional Interpol, seorang perempuan korban trafiking bisa
mendatangkan $75.000 sampai $250.000 per tahun.
Dipandang
dari keuntungan yang dihasilkan, trafiking manusia adalah bisnis yang
sempurna. Labanya luar biasa besar. Barang dagangannya banyak tersedia
dan murah pula. Dan setelah seorang perempuan tak lagi diminati atau
mampu bekerja, ia dibuang dan diganti wajah baru yang lebih muda. Jumlah
korban trafiking sungguh mencengangkan. Dalam laporan trafiking 2003,
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa "tak ada negara yang bebas
trafiking" dan memperkirakan bahwa kurang-lebih 800 ribu sampai 900 ribu
orang diperdagangkan melintas batas-batas negara di seantero dunia.
Angka tersebut belum mencakup trafiking dalam negeri, yang oleh beberapa
pengamat diperkirakan akan memperbesarnya menjadi lebih dari dua juta
orang. Sayangnya, laporan tersebut menambahkan bahwa "perdagangan
manusia tak hanya berlanjut, tapi tampaknya makin meningkat di seluruh
dunia" dan hampir semua korbannya adalah perempuan dan anak-anak.
Laporan itu juga menyatakan bahwa trafiking menyengsarakan perempuan dan
anak, "membuat mereka mengalami pemerkosaan, siksaan, HIV/AIDS dan
berbagai penyakit menular seksual lain, kekerasan, kondisi kerja yang
berbahaya, kurang gizi, serta ketergantungan terhadap alkohol dan
obat-obatan. Makin banyak orang dewasa dan anak yang dipaksa melakukan
prostitusi, dan juga anak jalanan, yang mengidap HIV/AIDS." Pasar
perempuan internasional bukanlah hal baru— perempuan Asia sudah
bertahun-tahun jadi barang dagangan utama, dan banyak sekali laki-laki
yang mengunjungi Bangkok dan Manila untuk wisata seks.
Dalam
tiga dasawarsa terakhir, dunia telah menyaksikan empat gelombang
trafiking untuk eksploitasi seksual. Gelombang terbaru dan Eropa Timur
dan Tengah telah dinamai "Gelombang Keempat" ( the Fourth Wave),
dan kecepatan serta ukurannya sungguh mengejutkan. Satu dasawarsa lalu
saja perempuan Eropa Timur dan eks-Soviet belum kelihatan sama sekali.
Sekarang, mereka sudah mencakup lebih daripada 25 persen perdagangan
perempuan.
Untuk download silahkan klik tombol di bawah ini :


Post a Comment for "Natasha"
Apabila ada link yang error mohon untuk memberitahu saya lewat komentar ! Terima kasih banyak atas kunjungannya !
Post a Comment