Robohnya Surau Kami
Penulis : A.A. Navis
Jumlah Halaman : 195
Cerpen
“Robohnya Surau Kami” ini bercerita tentang seorang kakek yang hidupnya
dihabiskan sebagai seorang penjaga surau (Garin). Namun, karena suatu
peristiwa, kakek penjaga surau itu meninggal bunuh diri dengan sangat
mengenaskan
Penyebab
tertekannya kondisi psikologis dari kakek penjaga surau itu sehingga
nekat bunuh diri hanyalah sebuah cerita dari Ajo Sidi yang sedikit
banyak sangat menyentuh kakek tersebut.
Pada awalnya, surau yang dijaga oleh kakek adalah sebuah surau yang sangat teduh dan nyaman untuk bersembahyang. Keadaan begitu terbalik saat kakek penjaga surau itu telah meninggal dunia. Surau tersebut menjadi sebuah surau tua yang tidak lagi terawat dan sangat usang. Surau itu berubah menjadi tempat bermain anak-anak, dan yang lebih parah, bilik serta lantai kayu surau itu dijadikan sebagai persediaan kayu bakar bagi penduduk sekitar. Hal tidak mengenakkan ini berawal dari cerita Ajo Sidi tentang seorang yang di dunia taat beragama, yaitu Haji Saleh.
Pada awalnya, surau yang dijaga oleh kakek adalah sebuah surau yang sangat teduh dan nyaman untuk bersembahyang. Keadaan begitu terbalik saat kakek penjaga surau itu telah meninggal dunia. Surau tersebut menjadi sebuah surau tua yang tidak lagi terawat dan sangat usang. Surau itu berubah menjadi tempat bermain anak-anak, dan yang lebih parah, bilik serta lantai kayu surau itu dijadikan sebagai persediaan kayu bakar bagi penduduk sekitar. Hal tidak mengenakkan ini berawal dari cerita Ajo Sidi tentang seorang yang di dunia taat beragama, yaitu Haji Saleh.
Dalam
cerita Ajo Sidi, Haji Saleh adalah seorang yang taat menjalankan agama.
Pada saat meninggal dunia, Haji Saleh serta orang-orang lainnya sedang
menunggu giliran di akhirat untuk menerima penghakiman Tuhan untuk
dimasukkan ke neraka atau ke surga. Saat gilirannya tiba, Haji Saleh
tanpa rasa takut menjawab pertanyaan Tuhan tentang apa saja yang
dilakukannya di dunia pada masa hidupnya. Haji Saleh dengan percaya diri
berkata bahwa pada saat ia hidup di dunia, yang dilakukannya adalah
memuji dan menyembah Tuhan, serta menjalankan ajaran agama dengan taat.
Namun, Tuhan tidak memasukkan Haji Saleh ke surga, melainkan ke neraka.
Di neraka, Haji Saleh bertemu juga dengan teman-temannya di dunia yang
ibadahnya juga tidak kurang dari dirinya, bahkan ada juga orang yang
sampai bergelar syekh. Akhirnya, karena tidak terima dengan keputusan
Tuhan, orang-orang di neraka yang menganggap dirinya tidak pantas
dimasukkan ke neraka itu melakukan aksi unjuk rasa kepada Tuhan. Haji
Saleh yang menjadi pemimpin dan pembicara bagi mereka. Sekali lagi,
Tuhan menanyakan kepada mereka apa yang telah mereka lakukan di dunia.
Mereka menjawab bahwa mereka semua adalah warga negara Indonesia yang
taat beragama dan negaranya sangat kaya akan sumber daya alam, namun
hasilnya sering di ambil oleh pihak asing. Lalu Tuhan menjawab kepada
mereka, bahwa mereka semua hanya mementingkan diri mereka sendiri,
karena selama hidup mereka hanya berdoa dan menyembah-Nya, tetapi tidak
mempedulikan keadaan sekitar, sehingga banyak kekayaan negara mereka
sendiri yang diambil oleh pihak asing, sedangkan anak cucu mereka
sendiri hidupnya kekurangan.
Dari
cerita Ajo Sidi itu, mungkin kakek penjaga surau itu merasa tersinggung
dan terpukul. Karena selama hidupnya, kakek itu hanya menyembah dan
memuji Tuhan, sampai-sampai tidak memiliki istri serta anak cucu. Kakek
itu kemudian merasa marah dan tertekan lalu akhirnya memutuskan untuk
bunuh diri.
2. Kajian Unsur-Unsur Intrinsik
Sebenarnya
dari sinopsis di atas kita telah dapat menangkap secara jelas tema
cerita dari “Robohnya Surau Kami” ini. Tema dari cerita ini adalah hidup
yang dikehendaki Tuhan. Hidup yang dikehendaki Tuhan bukan saja hidup
dengan menyembah dan memuji nama-Nya terus menerus dan menjalankan
perintah agama dengan baik, melainkan juga hidup yang peka dengan
keadaan sekitar. Karena beribadah saja tidaklah cukup. Beribadah harus
dibarengi dengan kerja keras dan peduli akan keadaan sekitar khususnya
anak cucu, keluarga, serta semua orang di sekitar kita.
Seperti
yang kita ketahui bersama, bahwa menyembah dan memuji Tuhan serta
nemnjalankan ajaran agama dengan taat bukanlah hal yang salah. Namun,
terkadang manusia menjalankan ibadah dengan baik hanya supaya dirinya
dapat masuk ke surga pada saat ia meninggal dunia. Hal tersebut
sebenarnya adalah pemikiran yang sangat egois, dan dalam cerita
“Robohnya Surau Kami” ini, Tuhan tidak suka akan manusia yang hidupnya
hanya mementingkan diri sendiri. “Imbangilah ibadahmu yang baik dengan
kerja keras untuk menyejahterakan hidupmu serta hidup keluarga, saudara,
dan semua orang disekitarmu”, mungkin itulah pesan yang ingin
disampaiakan oleh penulis melalui cerpen “Robohnya Surau Kami” ini.
Cerpen
karya A.A. Navis ini bersetting tempat di sebuah desa kecil, dimana
dalam desa tersebut terdapat sebuah surau yang awalnya sangat teduh dan
nyaman untuk beribadah, namun kini menjadi sangat usang karena telah
ditinggalkan oleh sang penjaga surau. Keusangan surau itu melambangkan
kemasabodohan manusia yang tidak mau lagi memelihara apa yang tidak
dijaga lagi, seperti dalam kutipan cerpen berikut:
“Jika
tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan
suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat
berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan
mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia
sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi.”
Selain
itu, cerpen ini juga bersetting tempat di akhirat dan neraka. Akhirat
adalah tempat dimana Haji Saleh menunggu gilirannya untuk diadili Tuhan
dalam cerita Ajo Sidi. Dan neraka adalah tempat bertemunya Haji Saleh
dengan orang-orang yang taat beribadah lainnya, sehingga mereka
melakukan unjuk rasa kepada Tuhan karena merasa tidak terima diri mereka
dimasukkan ke neraka.
Dari
segi penokohan, cerpen ini memuat tokoh-tokoh yang cukup sederhana
namun dapat menunjukkan kekuatan dan ciri karakter tokohnya
masing-masing. Terdapat empat tokoh yang muncul dalam cerpen ini, yaitu
kakek, aku, Ajo Sidi, Haji Saleh, istri tokoh aku, dan istri Ajo Sidi.
Kakek
adalah tokoh utama (protagonis) dalam cerpen ini. Tokoh kakek
digambarkan sebagai seorang tua penjaga surau yang sangat taat dalam
menjalankan ajaran agama. Ia memberikan seluruh hidupnya hanya untuk
beribadah dan menjaga surau tersebut. Kakek adalah orang yang sangat
sederhana dan tidak pernah hidup berlebihan. Kehidupannya hanya ditopang
dengan pemberian sukarela dari penduduk setempat ataupun yang
berkunjung ke surau yang dijaganya itu. Namun sayang, tokoh kakek
memiliki kondisi psikologis yang kurang kuat. Saat Ajo Sidi menceritakan
cerita tentang Haji Saleh, tokoh kakek langsung hancur keteguhan
hatinya. Kakek merasa bahwa semua yang dikorbankannya dalam hidupnya
hanya untuk beribadah, menurut cerita Ajo Sidi, semuanya tidaklah
benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Tokoh kakek yang merasa semua
pengorbanannya tidak berguna, merasa marah kepada Ajo Sidi, walaupun
kakek menyangkalnya saat ditanya oleh tokoh aku. Namun menurut saya
sendiri, tokoh kakek sebenarnya marah kepada dirinya sendiri, karena ia
ternyata telah salah. Kakek mengorbankan hidupnya untuk sesuatu yang
sebenarnya tidak terlalu dikehendaki oleh Tuhan. Sehingga akhirnya kakek
memutuskan untuk bunuh diri.
Selanjutnya,
terdapat tokoh aku yang berkedudukan sebagai deutragonis (tokoh yang
berpihak pada protagonis). Tokoh aku ini memiliki kepribadian yang
menurut saya masih sangat kekanak-kanakan. Ia memiliki rasa ingin tahu
yang sangat besar dan masih cenderung mengikuti emosinya saat bertindak
dan berpikir, tanpa menimbang masak-masak mana yang seharusnya dilakukan
atau dan tidak dilakukan. Misalnya saat mendengar berita bahwa kakek
telah meninggal, tokoh aku secara emosional langsung menganggap bahwa
Ajo Sidi-lah yang bersalah, seperti terlihat dalam kutipan dialog antara
berikut:
“Ya.
Tadi subuh kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang sangat
mengerikan sekali. Ia menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur”
“Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.
Tokoh
selanjutnya yang muncul dalam cerita ini adalah Ajo Sidi. Ajo Sidi
merupakan tokoh antagonis dalam cerita ini. Ia yang menceritakan kisah
tentang Haji Saleh yang membuat kakek sangat terpukul dan akhirnya bunuh
diri. Ajo Sidi sebenarnya memiliki watak yang baik, yakni sering
mengingatkan para tokoh masyarakat yang hidupnya dirasa kurang baik. Ajo
Sidi suka menyindir orang lain dengan menggunakan cerita-cerita
perumpamaan. Banyak pula masyarakat yang terpengaruh oleh ceritanya,
karena dianggap sangat “mengena”.
Haji
Saleh merupakan tokoh rekaan dari Ajo Sidi. Ajo Sidi menggunakan
karakter Haji Saleh untuk menggambarkan orang-orang yang telah merasa
dirinya adalah orang yang sangat dikehendaki oleh Tuhan, banyak pahala,
dan telah melaksanakan semua ajaran agama dengan taat. Hal itu membuat
Haji Saleh bersikap sombong pada saat menunggu pengadilan Tuhan. Ia
mencibir kepada orang-orang yang dimasukkan ke neraka, dan melambai
senang kepada orang yang masuk ke surga. Padahal, dirinya sendiri
dimasukkan ke neraka oleh Tuhan karena hidupnya dianggap terlalu egois
dan tidak memedulikan kesejahteraan orang-orang disekelilingnya.
Tokoh
selanjutnya yang terdapat dalam cerita ini adalah istri dari tokoh aku
serta istri dari Ajo Sidi. Namun, kehadiran dua tokoh itu tidak terlalu
penting dalam cerita ini, karena kehadirannya yang hanya sebagai
pelengkap dan hanya muncul sebentar di dalam cerita ini, sehingga saya
tidak akan membahasnya.
Selanjutnya
cerita ini memiliki alur maju mundur. Hal ini terjadi karena
dipertengahan cerita, tokoh kakek menceritakan kembali tentang kejadian
Ajo Sidi yang bercerita tentang Haji Saleh.
3. Kesimpulan
Secara
umum, cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis ini memiliki cerita
yang sangat unik dan menarik. Cerita ini dikemas secara sederhana,
tetapi penuh makna dan kritik atas kehidupan manusia pada jaman modern
ini. Di mana manusia berlomba-lomba untuk memnuhi kepentingannya
sendiri, bahkan dalam masalah agama. Manusia menjalankan agamanya dengan
baik dan taat hanya agar dirinya dapat masuk surga. Manusia memuji
Tuhannya tidak lagi dengan hati yang tulus karena mencintai-Nya,
melainkan hanya agar memperoleh pahala dan semakin mudah jalannya untuk
masuk ke surga. Sangat mengenaskan dan memprihatinkan memang, tapi
itulah kenyataan pada masa kini yang berhasil ditangkap oleh A.A. Navis
dan dituangkankannya ke dalam cerita ini.
Untuk download klik tombol di bawah ini !
Untuk download klik tombol di bawah ini !


Post a Comment for "Robohnya Surau Kami"
Apabila ada link yang error mohon untuk memberitahu saya lewat komentar ! Terima kasih banyak atas kunjungannya !
Post a Comment