Charlie Si Jenius Dungu
Berbeda dengan buku “The Minds of Billy Milligan” yang diangkat dari kisah nyata, buku “Charlie Si Jenius Dungu” ini bergenre science fiction. Namun menariknya, baik yang bergenre non-fiksi (kisah nyata) maupun fiksi, Daniel Keyes selalu menyajikan fakta-fakta dan teori-teori yang sangat valid dan reliable dalam buku-bukunya, sehingga pembaca dapat memperkaya pengetahuan dalam banyak hal.
Ibu Charlie yang bernama Rose adalah orang yang gengsi mengakui kalau Charlie adalah anak dengan keterbelakangan mental. Semua orang menyarankan agar Rose menyekolahkan Charlie ke sekolah khusus SLB. Namun Rose selalu menolak dengan meyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa Charlie hanya lamban dan dia bisa seperti anak lain jika dia berusaha lebih keras. Kita tahu bahwa anak dengan keterbelakangan mental sangat sulit menyelesaikan tugas walaupun itu tugas yang sangat mudah dan sangat sederhana bagi orang normal. Contohnya, saat Charlie ingin buang air besar, dia tidak bisa menyelesaikan teka-teki dimana letak toilet di rumahnya. Dia meminta tolong pada ibunya, tapi ibunya tidak membantunya dengan tujuan agar Charlie bisa mandiri karena waktu itu dia sudah berusia 6 tahun. Tentu saja Charlie tetap tidak bisa melakukanya sendiri karena dia terbelakang. Akhirnya dia buang air besar di celananya. Hal tersebut membuat ibunya marah dan memukul Charlie, sekaligus meneriaki Charlie bodoh. Hal itu terjadi terus-menerus setiap hari.
Waktu beranjak remaja (berumur 18 tahun), Charlie "dibuang" oleh keluarganya dan diasuh oleh pemilik toko roti yang bernama Pak Donner. Charlie juga mulai sekolah di sekolah khusus (SLB) Warren dan berkerja sebagai tukang sapu di toko roti milik Pak Donner. Hingga suatu hari (ketika dia sudah berumur 32 tahun), Universitas Beekman mengadakan sebuah eksperimen untuk meningkatkan kecerdasan otak manusia. Master plan dari eksperimen tersebut adalah Profesor Nemur dan Dr. Strauss. Mereka berdua butuh objek manusia untuk menguji coba penemuan tersebut dengan mengajukan proposal pada SLB Warren. Mendengar tawaran ini, Charlie sangat antusias menjadi sukarelawan sebagai objek penelitian dalam proyek ilmiah Universitas Beekman karena dia ingin pandai. Namun, eksperimen ini belum pernah diujicobakan pada manusia. Eksperimen ini hanya berhasil diujicobakan pada seekor tikus bernama Algernon. Banyak kemungkinan negatif atau positif yang akan terjadi jika eksperimen itu dilakukan pada manusia. Charlie tidak peduli dengan tersebut, dan dia tetap ngotot ingin menjadi pandai agar dia bisa mengobrol tentang tuhan, politik, agama, dan seni dengan teman-temannya yang bekerja di toko roti. Selama ini, Charlie tidak tahu (bahkan tidak mengerti) apa itu tuhan, agama, politik, dan seni. Charlie berpikir bahwa ibu dan teman-temannya mungkin akan bangga dan senang jika dia bisa pandai.
Sebelum eksperimen diujicobakan, Prof. Nemur menyuruh Charlie untuk menulis sebuah diary (laporan kemajuan dalam bentuk catatan harian). Hal ini dimaksudkan agar Prof. Nemur bisa membaca perkembangan Charlie sebelum dan sesudah dioperasi. Di hari-hari sebelum operasi dilakukan, Charlie menulis catatan harian tapi terdapat banyak kesalahan spelling (ejaan) pada kata-kata yang dia tulis. Awalnya, saya mengira kalau kesalahan spelling (ejaan) hanyalah sekedar typo (kesalahan ketik) yang dilakukan secara tidak sengaja oleh Daniel Keyes (penulis novel ini). Ternyata typo ini memang sengaja dibuat di sana-sini untuk menggambarkan bahwa language deficit adalah salah satu symptom dari orang yang mengalami keterbelakangan mental. Penggambaran karakter Charlie yang sering salah dalam menuliskan ejaan kata dalam buku ini sama seperti teori linguistics yang saya pelajari di mata kuliah psycholinguistics bab "language and brain / language disorder".
Setelah eksperimen diujicobakan, tidak ada perubahan yang signifikan pada Charlie. Dia perlu dilatih terlebih dahulu. Pertama, Charlie disuruh mendengarkan kaset yang berisi orang berdialog. Hal ini dimaksudkan agar otak Charlie merekam kata-kata yang ada dalam kaset itu. Kedua, Charlie dilatih untuk belajar menulis dengan menggunakan ejaan dan tanda baca yang baik dan benar. Beberapa hari setelah itu, Charlie sudah bisa menulis catatan harian dengan baik. Hanya sedikit kesalahan ejaan yang dia lakukan.
Saya paling suka pada tahap Charlie diajari bahasa asing. Pelajaran bahasa asing inilah yang membuat Charlie jadi lebih suka membaca. Awalnya Charlie suka membaca novel-novel sastra klasik seperti “The Great Gatsby”, “An American Tragedy”, "Robinson Crusoe", dll. Dari novel-novel yang dia baca inilah secara tidak sengaja dia mempelajari hubungan antara orang laki-laki dan perempuan, sehingga ada perasaan aneh untuk pertama kalinya saat dia berdekatan dengan orang perempuan. Ada kejadian lucu saat Charlie diajak teman-temeanya ke sebuah pesta. Charlie didekati oleh wanita bernama Ellen. Setelah pulang, dia tertidur dan bermimpi aneh tentang wanita. Charlie kaget waktu terbangun kasurnya basah. Charlie pun panik dan mengkonsultasikan ini pada Dr. Strauss. Charlie bilang kalau dia bermimpi aneh dan “ngompol” ketika terbangun. Charlie berpikir walaupun sudah sedikit pandai tapi kelakuanya masih seperti anak-anak yang masih suka ngompol. Dia merasa tidak nyaman dengan kejadian “ngompol” tersebut. Dr. Strauss pun tertawa dan menjelaskan pada Charlie kalau dia sebenarnya tidak ngompol tapi itu disebut mimpi basah dan itu normal bagi semua pria.
Setelah fasih membaca dan menulis, Charlie mulai hobi menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk menguping mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdiskusi dan berdebat tentang buku-buku politik. Charlie sangat suka mendengarkan mahasiswa-mahasiswa tersebut berceloteh tentang seni, ilmu pengetahuan, agama, dan filosofi-filosofi tentang William Shakespeare, Milton, Albert Enstein, Newton, Immanuel Kant, Hegel, Sigmun Freud, dan Plato. Saya terkejut ketika membaca halaman 110 pada buku ini. Di halaman tersebut, Charlie sedang mendengarkan para mahasiswa yang sedang berdebat tentang keoriginalitasan drama “Romeo and Juliet”. Beberapa mahasiswa berargumen bahwa drama-drama Shakespeare itu sebenarnya ditulis oleh Marlowe, sedangkan mahasiswa lain berpendapat bahwa drama-drama Shakespeare ditulis oleh Sir Francis Bacon karena Shakespeare tidak pernah kuliah di universitas dan tidak pernah mendapatkan pendidikan seperti yang tampak pada drama-dramanya. Awalnya, saya mengira issue tentang plagiarism Shakespeare yang dicantumkan dalam novel ini hanya sekedar sensasi yang ditulis secara random oleh Daniel Keyes. Namun setelah saya menanyakan issue tersebut pada beberapa teman saya yang mengambil jurusan literature, ternyata issue itu memang sering menjadi perdebatan hangat di kalangan akademisi di bidang sastra sejak dulu sampai sekarang. Inilah yang saya suka dari buku ini. Dalam satu buku, saya bisa banyak mendapatkan pengetahun baru di bidang biologi, kimia, filsafat, psikologi, sastra, dan politik.
Charlie sangat senang dengan perkembangan otaknya ini. Namun, justru dengan perkembangan otaknya inilah dia akhirnya bisa menyadari tentang eksistensi sisi gelap dan kepalsuan manusia (orang-orang) yang berada di sekitarnya. Contohnya, waktu Charlie bekerja di toko roti milik Pak Donner, dia melihat rekan kerjanya yang bernama Gimpy melakukan korupsi kecil-kecilan. Awalnya Charlie mengira Gimpy melakukan kesalahan hitung pada mesin kasir yang tidak dia sengaja. Ada pembeli yang berbelanja 4 dollar, tapi Gimpy hanya menarik pembeli itu dengan harga 3 dollar, karena kembalian 1 dolar tersebut dibagi dua. 0,5 dollar dikembalikan pada pembeli tersebut, dan 0,5 lainya masuk ke kantung Gimpy. Korupsi yang dilakukan oleh Gimpy ini terjadi setiap hari. Akhirnya Charlie sadar bahwa Gimpy melakukannya dengan sengaja dan perbuatan itu sama dengan mencuri. Charlie bingung. Dia ingin melaporkan Gimpy pada Pak Donner. Namun jika Pak Donnor tahu, Gimpy akan kehilangan pekerjaannya. Sedangkan Gimpy itu pria miskin. Dia pincang dan punya istri yang butuh uang. Otak Charlie sudah bisa berlogika membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tapi dia belum bisa mengambil keputusan untuk menyelasaikan masalah itu. Setelah berpikir beberapa hari, Charlie memutuskan untuk menegur Gimpy secara personal. Gimpy pun marah dan sejak saat itu Gimpy membenci Charlie. Tentu saja Charlie sedih karena justru karena “perkembangan otaknya” itulah dia dibenci oleh temannya.
Perkembangan otak Charlie akhirnya juga mengarahkan dia untuk mengenal dua macam perasaan yaitu perasaan “emosi/marah” dan “benci”. Dulu waktu Charlie masih ber-IQ 68 (terbelakang), dia tidak pernah marah ataupun benci pada orang-orang yang menghinanya dan mem-bully-nya karena dia menganggap semua perbuatan teman-temanya yang jahat itu hanya untuk bercanda dan bersenang-senang. Namun, setelah IQ Charlie meningkat, dia mulai sadar bahwa beberapa temannya itu telah berbuat sesuatu yang jahat padanya. Contohnya, dulu Charlie pernah dikerjai oleh Frank dan Joe saat di Halloran’s Cafe. Mereka berdua menyuruh Charlie memeriksa keadaan diluar apakah hujan atau tidak. Saat Charlie keluar, Frank dan Joe malah meninggalkan Charlie sendirian di Halloran’s cafe. Dulu sih (waktu masih ber-IQ 68), Charlie berpikir kalau Frank dan Joe meninggalkan Halloran’s Cafe karena khawatir pada Charlie sehingga mereka memutuskan untuk mencari Charlie yang keluar memeriksa hujan tadi. Charlie pun mencari Joe dan Frank sampai dia tersesat di jalan. Akhirnya, Charlie diantarkan pulang oleh seorang polisi. Sekarang setelah IQ Charlie meningkat, Charlie sadar bahwa Joe dan Frank dulu cuma mengerjainya seperti seekor anjing tolol. Mengingat kejadian itu, Charlie menjadi sangat marah pada Joe dan Frank. Di tempat kerja, Joe dan Frank juga mulai takut dan benci pada Charlie karena mereka berdua merasa insecure dengan “kepintaran” Charlie. Mereka berdua bahkan merasa tampak tolol ketika Charlie berbicara tentang topik-topik berat seperti filsafat, politik, seni, tuhan, dll. Teman-teman Charlie di toko roti merasa risih dengan perkembangan Charlie yang sangat pesat itu.
Kecerdasan Charlie ini pun akhirnya membuat dia dipecat sebagai tukang sapu di toko roti Pak Donner. Para karyawan di toko roti tersebut menandatangani surat petisi untuk mengeluarkan Charlie karena mereka risih dengan perubahan Charlie yang sangat aneh namun luar biasa. Mereka merasa terdikte oleh Charlie dengan semua ide-ide cerdasnya dalam mengelolah toko roti milik Pak Donner. Menariknya, ada salah seorang karyawan yang tidak menandatangani petisi tersebut. Dia bernama Fanny. Di halaman 164-165 ada percakapan antara Charlie dan Fanny yang menyinggung topik menarik tentang Science versus God. Inilah dialog yang sangat menarik itu:
Charlie: “Apa yang salah dengan seseorang yang ingin menjadi lebih pandai, memperoleh ilmu pengetahuan, dan mengerti akan dirinya sendiri, dan dunia?” (page 164)
Fanny: “Bacalah Al-kitabmu, Charlie! Kau akan tahu bahwa tidak seharusnya orang mengetahui sesuatu lebih dari yang diberikan kepadanya oleh Tuhan. Buah itu terlarang bagi manusia. Charlie jika kau melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kau lakukan – kautahu seperti perbuatan setan – mungkin belum terlambat untuk segera keluar dari pengaruhnya. Mungkin kau bisa menjadi lelaki sederhana seperti dulu. (page 165)
Charlie: “Aku tidak bisa kembali Fanny. Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya seperti seorang laki-laki yang terlahir buta yang diberi kesempatan untuk melihat cahaya. Itu bukan dosa. Tidak lama lagi akan ada jutaan orang yang seperti diriku di seluruh dunia. Ilmu pengetahuan bisa mewujudkan itu, Fanny. (page 165)
Fanny: “Kau tahu mengerikan sekali ketika Adam dan Hawa memakan buah dari pohon pengetahuan. Mengerikan sekali ketika melihat diri mereka telanjang, lalu belajar birahi dan malu. Kemudian mereka diusir dari surga, lalu pintu gerbang itu tertutup bagi mereka. Kalau tidak karena itu, mungkin tidak seorang pun dari kita menjadi tua, sakit, dan kemudian mati. (page 165).
Awalnya saya bingung dengan dialog diatas. Apa hubunganya menjadi pintar dengan dosa? Bukankah yang tidak ada di kitab suci itu hanya tentang teori evolusi? Tapi akhirnya saya mengerti apa yang dimaksud Fanny dengan “dosa” setelah membaca halaman 236 dimana Charlie mengikuti konferensi International yang diadakan di Chicago. Mau tahu? Ayo kita lanjutkan.
Pada saat IQ Charlie sudah mencapai 185, dia merasa topik-topik tentang tuhan, agama, dan politik yang didiskusikan oleh mahasiswa-mahasiswa di perpustakaan itu terlalu dangkal dan kekanak-kanakkan. Charlie jadi bosan dan ingin mempelajari sesuatu yang lebih berat dan menantang. Pada kesempatan ini, Profesor Nemur dan Dr. Strauss mengajak Charlie untuk menghadiri konferensi international di California yang dihadiri oleh profesor-profesor emeritus di bidang psikologi dari seluruh penjuru dunia. Charlie sangat senang karena dia berpikir dia bisa mengobrol topik-topik baru yang lebih berbobot dengan para profesor tersebut. Dalam konferensi itu, Prof. Nemur mempresentasikan eksperimen yang diujicobakan pada Charlie dan Algernon. Semua profesor yang menghadiri konferensi itu berdecak kagum pada eksperimen dan penemuan yang dilakukan oleh Prof. Nemur. Sesi yang paling seru adalah saat para profesor tersebut menanyakan kenapa otak Charlie bisa normal. Teori-teori kimia dan biologi dilemparkan ke sana kemari. Namun, Charlie menyadari ada yang salah dengan teori-teori yang diucapkan oleh Prof. Nemur. Akhirnya mereka pun berdebat seperti dialog di bawah ini:
Charlie: “Tunggu sebentar, Prof. Nemur. Bagaimana dengan karya Rahajamati dalam bidang ini? Teorinya menyerang teori Tanida tentang campuran enzim – konsep perubahan susunan kimia enzim yang menghalangi gerakan jalur metabolis. (Page 217)
Prof. Nemur: “Di artikel mana itu diterjemahkan?” (Page 217)
Charlie: “Belum diterjemahkan. Aku membacanya di Jurnal Psikopatologi Hindu .....” (Page 217)
Prof. Nemur: “Ya, kurasa tidak ada yang kami khawatirkan. Hasil kerja kami sudah membuktikanya.” (Page 217)
Charlie: “Tetapi, Tanida pertama-tama mengemukakan teori pemblokiran enzim maverick melalui kombinasi, dan menjelaskan bahwa ......” (Page 217)
Prof. Nemur: “Oh, ayolah Charlie! Hanya karena orang pertama mengajukan teori tidak serta merta membuatnya menjadi kata akhir dari perkembangan eksperimentalnya. Kukira semua orang di sini setuju bahwa penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris jauh lebih baik daripada yang dilakukan di Jepang dan India. Kita memiliki laboratorium terbaik dan perlengkapan terbaik di dunia” (Page 218)
Charlie: “Tetapi itu tidak menjawab pertanyaan artikel Rahajamati yang ....” (Page 218)
Prof. Nemur: “Ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk membahas hal itu. Aku yakin topik-topik ini cukup untuk dibicarakan di sesi-sesi besok” (Page 218)
Charlie merasa jengkel karena pertanyaanya tidak dijawab. Profesor-profesor yang dulu dianggapnya sebagai raksasa berotak dewa itu, sekarang menurutnya tidak lebih dari manusia biasa yang berpura-pura pintar. Charlie juga heran kenapa Prof. Nemur tidak bisa berbahasa Hindi dan Jepang? Charlie tidak sadar bahwa IQ-nya telah melebihi IQ profesor yang menciptakanya. Dia menjadi tidak sabaran dan menggebu-nggebu untuk mengetahui hal-hal yang ada di otaknya. Dia juga merasa cepat bosan karena mengganggap orang-orang disekitarnya tidak bisa mengimbangi dirinya. Mungkin hal inilah yang membuat Charlie kehilangan banyak teman ketika dia berubah menjadi jenius. Daniel Keyes sangat bagus dalam menggambarkan sisi psikologis manusia dari perbedaan sudut pandang Charlie terhadap orang-orang di sekitarnya sewaktu dia masih terbelakang dan setelah menjadi jenius.
Ada di suatu titik dimana Charlie tidak bisa mengendalikan emosinya ketika dia mengetahui bahwa Prof. Nemur hanya menganggap Charlie sebagai “objek penelitian” bukan sebagai manusia yang butuh pertolongan. Hal itu disadari Charlie ketika Prof. Nemur berpidato di depan konferensi internasional tersebut. Pidatonya seperti ini:
Prof. Nemur: “Kami yang menggarap proyek di Universitas Beekman merasa puas bahwa kami telah memperbaiki salah satu KESALAHAN ALAM, dan dengan teknik terbaru kami TERCIPTALAH manusia hebat. Ketika dia datang kepada kami, dia bukanlah seorang anggota masyarakat, dia sendiri dalam kota besar tanpa keluarga dan teman yang mengurusinya, tanpa kelengkapan mental untuk hidup secara normal. Dia tidak punya masa lalu, tidak punya harapan di masa depan. Dapat dikatan bahwa Charlie Gordon tidak benar-benar ada ketika itu, sebelum eksperimen ini” (Page 236)
Mendengar pidato tersebut Charlie sangat marah dan membenci semua profesor yang hadir di konferensi itu. Menurut Charlie, semua profesor di konferensi itu hanyalah orang-orang palsu yang berakting ingin menyelamatkan dunia dengan penemuanya, tapi sebenarnya mereka hanya peduli dengan pengakuan dunia atas prestasinya. Mereka hanya berlagak menjadi Tuhan yang merasa bisa menciptakan manusia baru yang lebih hebat daripada manusia yang dulu merupakan salah satu kesalahan alam. Charlie tidak dianggap sebagai manusia tapi hanya sebagai hewan percobaan.
Untuk download klik tombol di bawah ini !
Ibu Charlie yang bernama Rose adalah orang yang gengsi mengakui kalau Charlie adalah anak dengan keterbelakangan mental. Semua orang menyarankan agar Rose menyekolahkan Charlie ke sekolah khusus SLB. Namun Rose selalu menolak dengan meyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa Charlie hanya lamban dan dia bisa seperti anak lain jika dia berusaha lebih keras. Kita tahu bahwa anak dengan keterbelakangan mental sangat sulit menyelesaikan tugas walaupun itu tugas yang sangat mudah dan sangat sederhana bagi orang normal. Contohnya, saat Charlie ingin buang air besar, dia tidak bisa menyelesaikan teka-teki dimana letak toilet di rumahnya. Dia meminta tolong pada ibunya, tapi ibunya tidak membantunya dengan tujuan agar Charlie bisa mandiri karena waktu itu dia sudah berusia 6 tahun. Tentu saja Charlie tetap tidak bisa melakukanya sendiri karena dia terbelakang. Akhirnya dia buang air besar di celananya. Hal tersebut membuat ibunya marah dan memukul Charlie, sekaligus meneriaki Charlie bodoh. Hal itu terjadi terus-menerus setiap hari.
Waktu beranjak remaja (berumur 18 tahun), Charlie "dibuang" oleh keluarganya dan diasuh oleh pemilik toko roti yang bernama Pak Donner. Charlie juga mulai sekolah di sekolah khusus (SLB) Warren dan berkerja sebagai tukang sapu di toko roti milik Pak Donner. Hingga suatu hari (ketika dia sudah berumur 32 tahun), Universitas Beekman mengadakan sebuah eksperimen untuk meningkatkan kecerdasan otak manusia. Master plan dari eksperimen tersebut adalah Profesor Nemur dan Dr. Strauss. Mereka berdua butuh objek manusia untuk menguji coba penemuan tersebut dengan mengajukan proposal pada SLB Warren. Mendengar tawaran ini, Charlie sangat antusias menjadi sukarelawan sebagai objek penelitian dalam proyek ilmiah Universitas Beekman karena dia ingin pandai. Namun, eksperimen ini belum pernah diujicobakan pada manusia. Eksperimen ini hanya berhasil diujicobakan pada seekor tikus bernama Algernon. Banyak kemungkinan negatif atau positif yang akan terjadi jika eksperimen itu dilakukan pada manusia. Charlie tidak peduli dengan tersebut, dan dia tetap ngotot ingin menjadi pandai agar dia bisa mengobrol tentang tuhan, politik, agama, dan seni dengan teman-temannya yang bekerja di toko roti. Selama ini, Charlie tidak tahu (bahkan tidak mengerti) apa itu tuhan, agama, politik, dan seni. Charlie berpikir bahwa ibu dan teman-temannya mungkin akan bangga dan senang jika dia bisa pandai.
Sebelum eksperimen diujicobakan, Prof. Nemur menyuruh Charlie untuk menulis sebuah diary (laporan kemajuan dalam bentuk catatan harian). Hal ini dimaksudkan agar Prof. Nemur bisa membaca perkembangan Charlie sebelum dan sesudah dioperasi. Di hari-hari sebelum operasi dilakukan, Charlie menulis catatan harian tapi terdapat banyak kesalahan spelling (ejaan) pada kata-kata yang dia tulis. Awalnya, saya mengira kalau kesalahan spelling (ejaan) hanyalah sekedar typo (kesalahan ketik) yang dilakukan secara tidak sengaja oleh Daniel Keyes (penulis novel ini). Ternyata typo ini memang sengaja dibuat di sana-sini untuk menggambarkan bahwa language deficit adalah salah satu symptom dari orang yang mengalami keterbelakangan mental. Penggambaran karakter Charlie yang sering salah dalam menuliskan ejaan kata dalam buku ini sama seperti teori linguistics yang saya pelajari di mata kuliah psycholinguistics bab "language and brain / language disorder".
Setelah eksperimen diujicobakan, tidak ada perubahan yang signifikan pada Charlie. Dia perlu dilatih terlebih dahulu. Pertama, Charlie disuruh mendengarkan kaset yang berisi orang berdialog. Hal ini dimaksudkan agar otak Charlie merekam kata-kata yang ada dalam kaset itu. Kedua, Charlie dilatih untuk belajar menulis dengan menggunakan ejaan dan tanda baca yang baik dan benar. Beberapa hari setelah itu, Charlie sudah bisa menulis catatan harian dengan baik. Hanya sedikit kesalahan ejaan yang dia lakukan.
Saya paling suka pada tahap Charlie diajari bahasa asing. Pelajaran bahasa asing inilah yang membuat Charlie jadi lebih suka membaca. Awalnya Charlie suka membaca novel-novel sastra klasik seperti “The Great Gatsby”, “An American Tragedy”, "Robinson Crusoe", dll. Dari novel-novel yang dia baca inilah secara tidak sengaja dia mempelajari hubungan antara orang laki-laki dan perempuan, sehingga ada perasaan aneh untuk pertama kalinya saat dia berdekatan dengan orang perempuan. Ada kejadian lucu saat Charlie diajak teman-temeanya ke sebuah pesta. Charlie didekati oleh wanita bernama Ellen. Setelah pulang, dia tertidur dan bermimpi aneh tentang wanita. Charlie kaget waktu terbangun kasurnya basah. Charlie pun panik dan mengkonsultasikan ini pada Dr. Strauss. Charlie bilang kalau dia bermimpi aneh dan “ngompol” ketika terbangun. Charlie berpikir walaupun sudah sedikit pandai tapi kelakuanya masih seperti anak-anak yang masih suka ngompol. Dia merasa tidak nyaman dengan kejadian “ngompol” tersebut. Dr. Strauss pun tertawa dan menjelaskan pada Charlie kalau dia sebenarnya tidak ngompol tapi itu disebut mimpi basah dan itu normal bagi semua pria.
Setelah fasih membaca dan menulis, Charlie mulai hobi menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk menguping mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdiskusi dan berdebat tentang buku-buku politik. Charlie sangat suka mendengarkan mahasiswa-mahasiswa tersebut berceloteh tentang seni, ilmu pengetahuan, agama, dan filosofi-filosofi tentang William Shakespeare, Milton, Albert Enstein, Newton, Immanuel Kant, Hegel, Sigmun Freud, dan Plato. Saya terkejut ketika membaca halaman 110 pada buku ini. Di halaman tersebut, Charlie sedang mendengarkan para mahasiswa yang sedang berdebat tentang keoriginalitasan drama “Romeo and Juliet”. Beberapa mahasiswa berargumen bahwa drama-drama Shakespeare itu sebenarnya ditulis oleh Marlowe, sedangkan mahasiswa lain berpendapat bahwa drama-drama Shakespeare ditulis oleh Sir Francis Bacon karena Shakespeare tidak pernah kuliah di universitas dan tidak pernah mendapatkan pendidikan seperti yang tampak pada drama-dramanya. Awalnya, saya mengira issue tentang plagiarism Shakespeare yang dicantumkan dalam novel ini hanya sekedar sensasi yang ditulis secara random oleh Daniel Keyes. Namun setelah saya menanyakan issue tersebut pada beberapa teman saya yang mengambil jurusan literature, ternyata issue itu memang sering menjadi perdebatan hangat di kalangan akademisi di bidang sastra sejak dulu sampai sekarang. Inilah yang saya suka dari buku ini. Dalam satu buku, saya bisa banyak mendapatkan pengetahun baru di bidang biologi, kimia, filsafat, psikologi, sastra, dan politik.
Charlie sangat senang dengan perkembangan otaknya ini. Namun, justru dengan perkembangan otaknya inilah dia akhirnya bisa menyadari tentang eksistensi sisi gelap dan kepalsuan manusia (orang-orang) yang berada di sekitarnya. Contohnya, waktu Charlie bekerja di toko roti milik Pak Donner, dia melihat rekan kerjanya yang bernama Gimpy melakukan korupsi kecil-kecilan. Awalnya Charlie mengira Gimpy melakukan kesalahan hitung pada mesin kasir yang tidak dia sengaja. Ada pembeli yang berbelanja 4 dollar, tapi Gimpy hanya menarik pembeli itu dengan harga 3 dollar, karena kembalian 1 dolar tersebut dibagi dua. 0,5 dollar dikembalikan pada pembeli tersebut, dan 0,5 lainya masuk ke kantung Gimpy. Korupsi yang dilakukan oleh Gimpy ini terjadi setiap hari. Akhirnya Charlie sadar bahwa Gimpy melakukannya dengan sengaja dan perbuatan itu sama dengan mencuri. Charlie bingung. Dia ingin melaporkan Gimpy pada Pak Donner. Namun jika Pak Donnor tahu, Gimpy akan kehilangan pekerjaannya. Sedangkan Gimpy itu pria miskin. Dia pincang dan punya istri yang butuh uang. Otak Charlie sudah bisa berlogika membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tapi dia belum bisa mengambil keputusan untuk menyelasaikan masalah itu. Setelah berpikir beberapa hari, Charlie memutuskan untuk menegur Gimpy secara personal. Gimpy pun marah dan sejak saat itu Gimpy membenci Charlie. Tentu saja Charlie sedih karena justru karena “perkembangan otaknya” itulah dia dibenci oleh temannya.
Perkembangan otak Charlie akhirnya juga mengarahkan dia untuk mengenal dua macam perasaan yaitu perasaan “emosi/marah” dan “benci”. Dulu waktu Charlie masih ber-IQ 68 (terbelakang), dia tidak pernah marah ataupun benci pada orang-orang yang menghinanya dan mem-bully-nya karena dia menganggap semua perbuatan teman-temanya yang jahat itu hanya untuk bercanda dan bersenang-senang. Namun, setelah IQ Charlie meningkat, dia mulai sadar bahwa beberapa temannya itu telah berbuat sesuatu yang jahat padanya. Contohnya, dulu Charlie pernah dikerjai oleh Frank dan Joe saat di Halloran’s Cafe. Mereka berdua menyuruh Charlie memeriksa keadaan diluar apakah hujan atau tidak. Saat Charlie keluar, Frank dan Joe malah meninggalkan Charlie sendirian di Halloran’s cafe. Dulu sih (waktu masih ber-IQ 68), Charlie berpikir kalau Frank dan Joe meninggalkan Halloran’s Cafe karena khawatir pada Charlie sehingga mereka memutuskan untuk mencari Charlie yang keluar memeriksa hujan tadi. Charlie pun mencari Joe dan Frank sampai dia tersesat di jalan. Akhirnya, Charlie diantarkan pulang oleh seorang polisi. Sekarang setelah IQ Charlie meningkat, Charlie sadar bahwa Joe dan Frank dulu cuma mengerjainya seperti seekor anjing tolol. Mengingat kejadian itu, Charlie menjadi sangat marah pada Joe dan Frank. Di tempat kerja, Joe dan Frank juga mulai takut dan benci pada Charlie karena mereka berdua merasa insecure dengan “kepintaran” Charlie. Mereka berdua bahkan merasa tampak tolol ketika Charlie berbicara tentang topik-topik berat seperti filsafat, politik, seni, tuhan, dll. Teman-teman Charlie di toko roti merasa risih dengan perkembangan Charlie yang sangat pesat itu.
Kecerdasan Charlie ini pun akhirnya membuat dia dipecat sebagai tukang sapu di toko roti Pak Donner. Para karyawan di toko roti tersebut menandatangani surat petisi untuk mengeluarkan Charlie karena mereka risih dengan perubahan Charlie yang sangat aneh namun luar biasa. Mereka merasa terdikte oleh Charlie dengan semua ide-ide cerdasnya dalam mengelolah toko roti milik Pak Donner. Menariknya, ada salah seorang karyawan yang tidak menandatangani petisi tersebut. Dia bernama Fanny. Di halaman 164-165 ada percakapan antara Charlie dan Fanny yang menyinggung topik menarik tentang Science versus God. Inilah dialog yang sangat menarik itu:
Charlie: “Apa yang salah dengan seseorang yang ingin menjadi lebih pandai, memperoleh ilmu pengetahuan, dan mengerti akan dirinya sendiri, dan dunia?” (page 164)
Fanny: “Bacalah Al-kitabmu, Charlie! Kau akan tahu bahwa tidak seharusnya orang mengetahui sesuatu lebih dari yang diberikan kepadanya oleh Tuhan. Buah itu terlarang bagi manusia. Charlie jika kau melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kau lakukan – kautahu seperti perbuatan setan – mungkin belum terlambat untuk segera keluar dari pengaruhnya. Mungkin kau bisa menjadi lelaki sederhana seperti dulu. (page 165)
Charlie: “Aku tidak bisa kembali Fanny. Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya seperti seorang laki-laki yang terlahir buta yang diberi kesempatan untuk melihat cahaya. Itu bukan dosa. Tidak lama lagi akan ada jutaan orang yang seperti diriku di seluruh dunia. Ilmu pengetahuan bisa mewujudkan itu, Fanny. (page 165)
Fanny: “Kau tahu mengerikan sekali ketika Adam dan Hawa memakan buah dari pohon pengetahuan. Mengerikan sekali ketika melihat diri mereka telanjang, lalu belajar birahi dan malu. Kemudian mereka diusir dari surga, lalu pintu gerbang itu tertutup bagi mereka. Kalau tidak karena itu, mungkin tidak seorang pun dari kita menjadi tua, sakit, dan kemudian mati. (page 165).
Awalnya saya bingung dengan dialog diatas. Apa hubunganya menjadi pintar dengan dosa? Bukankah yang tidak ada di kitab suci itu hanya tentang teori evolusi? Tapi akhirnya saya mengerti apa yang dimaksud Fanny dengan “dosa” setelah membaca halaman 236 dimana Charlie mengikuti konferensi International yang diadakan di Chicago. Mau tahu? Ayo kita lanjutkan.
Pada saat IQ Charlie sudah mencapai 185, dia merasa topik-topik tentang tuhan, agama, dan politik yang didiskusikan oleh mahasiswa-mahasiswa di perpustakaan itu terlalu dangkal dan kekanak-kanakkan. Charlie jadi bosan dan ingin mempelajari sesuatu yang lebih berat dan menantang. Pada kesempatan ini, Profesor Nemur dan Dr. Strauss mengajak Charlie untuk menghadiri konferensi international di California yang dihadiri oleh profesor-profesor emeritus di bidang psikologi dari seluruh penjuru dunia. Charlie sangat senang karena dia berpikir dia bisa mengobrol topik-topik baru yang lebih berbobot dengan para profesor tersebut. Dalam konferensi itu, Prof. Nemur mempresentasikan eksperimen yang diujicobakan pada Charlie dan Algernon. Semua profesor yang menghadiri konferensi itu berdecak kagum pada eksperimen dan penemuan yang dilakukan oleh Prof. Nemur. Sesi yang paling seru adalah saat para profesor tersebut menanyakan kenapa otak Charlie bisa normal. Teori-teori kimia dan biologi dilemparkan ke sana kemari. Namun, Charlie menyadari ada yang salah dengan teori-teori yang diucapkan oleh Prof. Nemur. Akhirnya mereka pun berdebat seperti dialog di bawah ini:
Charlie: “Tunggu sebentar, Prof. Nemur. Bagaimana dengan karya Rahajamati dalam bidang ini? Teorinya menyerang teori Tanida tentang campuran enzim – konsep perubahan susunan kimia enzim yang menghalangi gerakan jalur metabolis. (Page 217)
Prof. Nemur: “Di artikel mana itu diterjemahkan?” (Page 217)
Charlie: “Belum diterjemahkan. Aku membacanya di Jurnal Psikopatologi Hindu .....” (Page 217)
Prof. Nemur: “Ya, kurasa tidak ada yang kami khawatirkan. Hasil kerja kami sudah membuktikanya.” (Page 217)
Charlie: “Tetapi, Tanida pertama-tama mengemukakan teori pemblokiran enzim maverick melalui kombinasi, dan menjelaskan bahwa ......” (Page 217)
Prof. Nemur: “Oh, ayolah Charlie! Hanya karena orang pertama mengajukan teori tidak serta merta membuatnya menjadi kata akhir dari perkembangan eksperimentalnya. Kukira semua orang di sini setuju bahwa penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris jauh lebih baik daripada yang dilakukan di Jepang dan India. Kita memiliki laboratorium terbaik dan perlengkapan terbaik di dunia” (Page 218)
Charlie: “Tetapi itu tidak menjawab pertanyaan artikel Rahajamati yang ....” (Page 218)
Prof. Nemur: “Ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk membahas hal itu. Aku yakin topik-topik ini cukup untuk dibicarakan di sesi-sesi besok” (Page 218)
Charlie merasa jengkel karena pertanyaanya tidak dijawab. Profesor-profesor yang dulu dianggapnya sebagai raksasa berotak dewa itu, sekarang menurutnya tidak lebih dari manusia biasa yang berpura-pura pintar. Charlie juga heran kenapa Prof. Nemur tidak bisa berbahasa Hindi dan Jepang? Charlie tidak sadar bahwa IQ-nya telah melebihi IQ profesor yang menciptakanya. Dia menjadi tidak sabaran dan menggebu-nggebu untuk mengetahui hal-hal yang ada di otaknya. Dia juga merasa cepat bosan karena mengganggap orang-orang disekitarnya tidak bisa mengimbangi dirinya. Mungkin hal inilah yang membuat Charlie kehilangan banyak teman ketika dia berubah menjadi jenius. Daniel Keyes sangat bagus dalam menggambarkan sisi psikologis manusia dari perbedaan sudut pandang Charlie terhadap orang-orang di sekitarnya sewaktu dia masih terbelakang dan setelah menjadi jenius.
Ada di suatu titik dimana Charlie tidak bisa mengendalikan emosinya ketika dia mengetahui bahwa Prof. Nemur hanya menganggap Charlie sebagai “objek penelitian” bukan sebagai manusia yang butuh pertolongan. Hal itu disadari Charlie ketika Prof. Nemur berpidato di depan konferensi internasional tersebut. Pidatonya seperti ini:
Prof. Nemur: “Kami yang menggarap proyek di Universitas Beekman merasa puas bahwa kami telah memperbaiki salah satu KESALAHAN ALAM, dan dengan teknik terbaru kami TERCIPTALAH manusia hebat. Ketika dia datang kepada kami, dia bukanlah seorang anggota masyarakat, dia sendiri dalam kota besar tanpa keluarga dan teman yang mengurusinya, tanpa kelengkapan mental untuk hidup secara normal. Dia tidak punya masa lalu, tidak punya harapan di masa depan. Dapat dikatan bahwa Charlie Gordon tidak benar-benar ada ketika itu, sebelum eksperimen ini” (Page 236)
Mendengar pidato tersebut Charlie sangat marah dan membenci semua profesor yang hadir di konferensi itu. Menurut Charlie, semua profesor di konferensi itu hanyalah orang-orang palsu yang berakting ingin menyelamatkan dunia dengan penemuanya, tapi sebenarnya mereka hanya peduli dengan pengakuan dunia atas prestasinya. Mereka hanya berlagak menjadi Tuhan yang merasa bisa menciptakan manusia baru yang lebih hebat daripada manusia yang dulu merupakan salah satu kesalahan alam. Charlie tidak dianggap sebagai manusia tapi hanya sebagai hewan percobaan.
Untuk download klik tombol di bawah ini !


Post a Comment for "Charlie Si Jenius Dungu"
Apabila ada link yang error mohon untuk memberitahu saya lewat komentar ! Terima kasih banyak atas kunjungannya !
Post a Comment