Moga Bunda Disayang Allah
Karang,
seorang pemuda gagah yang amat mencintai anak-anak. Semasa kecilnya
sudah yatim piatu dan mempunyai kehidupan yang “kurang beruntung”.
Tetapi Karang kecil mempunyai tekad yang amat kuat untuk menjadikan
kehidupannya sendiri lebih baik. Setelah tumbuh menjadi pemuda yang
pintar, dia menularkan “janji-janji kehidupan yang lebih baik” itu
kepada anak-anak di sekitarnya yang kurang beruntung. Ia bersama
teman-temannya mendirikan belasan taman bacaan, memberikan
dongeng-dongeng ringan tapi sarat makna kepada anak-anak tersebut,
hingga ada seorang anak bernama Qintan (6 tahun) yang dari lahir
lumpuh-layu, akhirnya bisa berlari, hanya karena mendengarkan cerita
Karang yang memotivasi.
Hingga
suatu hari Karang merasa sangat terpukul dan bersalah karena kejadian
tenggelamnya kapal yang dia naiki bersama anak-anak binaannya dalam
rangka berwisata bersama. 18 anak meninggal dunia, termasuk Qintan yang
meninggal dalam pelukannya. Walau di pengadilan Karang dinyatakan tidak
bersalah, namun perasaan tertekan itu terus menggelayuti pikirannya
hingga 3 tahun lamanya dia menghilang dari kehidupan sebelumnya, menjadi
pemuda mabuk-mabukan, pergi malam, pulang dini hari, dan tidur
sepanjang pagi hingga siang. Kehidupan yang “kacau” selama 3 tahun.
Suatu
hari seorang istri keluarga Tuan HK yang kaya-raya, memiliki banyak
perusahaan, dan baik hati (namun kurang beruntung) mendatangi Karang ke
rumahnya (lebih tepatnya rumah ibu-ibu gendut, istri bapak-bapak yang
dahulu sebelum meninggal sempat mengasuh Karang, menolongnya dari
kehidupan jalanan dan menampung di rumahnya). Orang tersebut adalah
Bunda.
Bunda
meminta tolong dengan sangat agar Karang membantu putri semata
wayangnya, Melati, yang berusia 6 tahun tapi buta, tuli, dan otomatis
menjadi bisu, agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Melati telah
ditangani berpuluh-puluh dokter dan terapis dalam dan luar negeri, namun
belum berhasil mengembalikannya ke kehidupan normal seperti anak
seusianya. Bunda yang mengetahui tentang “track-record” Karang dalam menangani anak-anak, sangat berharap kondisi Melati bisa mempunyai kehidupan yang lebih baik.
Bagaimanakah
cara Karang menangani Melati? Hambatan apa saja yang ditemuinya selama
“mengajari” Melati? Apakah Melati yang buta, tuli, dan bisu, sehingga
mempunyai temperamen yang sangat emosional, frustrasi, dan putus asa
mampu ditaklukkan oleh Karang? Dan ternyata di rumah mewah milik Bunda
dan Tuan HK, Karang bertemu kembali dengan sosok Kinasih, dengan jilbab
berwarna lembut dan lesung pipi manis yang selalu diingat Karang.
Siapakah Kinasih ini dan bagaimana kelanjutan kisah mereka berdua?
Untuk download klik tombol di bawah ini !


Post a Comment for "Moga Bunda Disayang Allah"
Apabila ada link yang error mohon untuk memberitahu saya lewat komentar ! Terima kasih banyak atas kunjungannya !
Post a Comment