Septa Siaga : Menerima Tanda Jasa
Judul : Menerima Tanda Jasa
Format Ebook : djvu
"Hore!
Liburan!" seru Peter dengan gembira. Ia berlari masuk ke dapur, lewat
pintu belakang Tas sekolahnya dilemparkan begitu saja, mengenai sebuah
kursi. Kebetulan kucing dapur sedang tidur di situ. Kucing itu
mengeong ketakutan, lalu lari pontang-panting ke luar lewat jendela
terbuka.
"Kenapa
Pus Kautakut-takuti?" tukas juru masak. Ia sedang sibuk menggiling
adonan untuk membikin perkedel. "Kasihan, ia tadi sedang enak-enak
tidur. Rupanya capek, karena semalaman rajin menangkap tikus dalam
lumbung!"
"Aku tidak tahu ia ada di situ," kata Peter. "Sungguh, aku tidak tahu. Aku boleh minta selai sedikit, Cookie?"
"Tidak
boleh," tukas juru masak. Nama panggilannya Cookie. "Mana adikmu?
Aduh.. aduh, sudah liburan lagi sekarang! Kalian berdua pasti akan
tidak berhenti-henti keluar-masuk dapur. Wah, payah!"
"Jangan
begitu dong, Cookie manis. Kan akan ada dua anak yang bisa
disuruh-suruh, yang rajin membersihkan sisa makanan dalam panci dan
tidak bosan mengatakan kue apel Anda yang paling enak di dunia,” kata
Peter membujuk. "Belum lagi...."
"Ya- belum lagi yang suka mengambil kue dari dalam kaleng, terus-menerus minta kismis, minta limun, minta...."
Saat itu Janet, adik Peter, masuk bergegas-gegas. Ia merangkul Cookie dan mengecupnya.
"Makan
apa kita nanti?" tanyanya sekaligus. "Kalian ini, ingatannya cuma
makan terus," kata Cookie menggerutu, sementara tangannya sibuk
mengaduk adonan. "Lebih baik masuk dulu. Ibu ada di kamar duduk, bersama
Bibi Lou yang baru saja datang. Aku tahu, bagaimana Bibi - pasti
membawa oleh-oleh untuk kalian!"
Peter
dan Janet bergegas masuk ke kamar duduk. Mereka sangat sayang pada
Bibi Lou. Peter dan Janet merangkul dan mengecupnya, lalu bercerita
bahwa liburan sekolah sudah dimulai.
"Jadi kapan-kapan kami akan bisa datang ke tempat Bibi," kata Peter.
"Kau
ini bagaimana, Peter!" tukas Ibu. "Masa mengundang diri sendiri? Dan
kenapa lututmu itu? Bukan main kotornya! Orang yang melihat pasti
menyangka dalam perjalanan pulang dari sekolah tadi kau sengaja
merangkak di lumpur."
"Baiklah,
akan kucuci dengan segera," kata Peter. Ia sendiri kaget melihat
lututnya begitu kotor. "Sungguh, Bu - aku juga tidak tahu apa sebabnya
...."
"Sini,
sekarang saja kuberikan hadiah liburan untuk kalian," kata Bibi Lou.
"Aku tak bisa menunggu sampai lututmu sudah dicuci bersih, karena nanti
bis sudah berangkat. Kalian tentunya masih suka coklat, ya?"
Sambil
berkata begitu, Bibi Lou menyodorkan sebuah kaleng yang besar sekali.
Mata Peter dan Janet sampai terbelalak melihatnya. Bayangkan, coklat
sebanyak itu - untuk mereka sendiri!
"Aku
tahu, kalian kan punya perkumpulan," kata Bibi lagi. "Kalau tidak
salah, anggotanya tujuh atau delapan anak, kan? Nah, coklat sekaleng ini
sumbanganku, untuk dimakan dalam rapat yang berikut."
Peter membuka tutup kaleng. Matanya semakin membesar, keasyikan.
"Lihatlah,
Janet - bermacam-macam jenis biskuit coklat ada di sini! Wah, Bi - aku
akan segera mengundang teman-teman berapat. Terima kasih, Bi - Anda
benar-benar baik hati. Semuanya ini, benar-benar untuk kami?"
“Untuk kalian serta teman-teman kalian," kata Bibi Lou sambil bangkit. "Nah, sekarang aku harus bergegas - supaya tidak ketinggalan bis. Yuk, antarkan aku ke halte."
Peter
dan Janet ikut mengantarkan. sampai Bibi Lou sudah naik ke atas bis.
Kemudian keduanya bergegas kembali ke kamar duduk, mendatangi biskuit
coklat sekaleng penuh.
"Kita
memakannya nanti saja, dalam rapat Sapta Siaga,” kata Peter. "Sekarang
kita tawarkan pada Ibu dan Cookie. Tapi kita sendiri jangan mengambil.
Sudah lama sekali kita tidak mengadakan rapat. Dan dengan hidangan
biskuit coklat, rapat pasti akan lancar jalannya."


Post a Comment for "Septa Siaga : Menerima Tanda Jasa"
Apabila ada link yang error mohon untuk memberitahu saya lewat komentar ! Terima kasih banyak atas kunjungannya !
Post a Comment